HOTEL TUGU DI BALI

HOTEL TUGU DI BALIHOTEL TUGU DI BALI – Seperti sebuah “mesin waktu”, hotel ini akan membawa Anda menuju kisah kiasik jaman kerajaan Jawa dan Bali tempo dulu. Selamat menikmati perjalanan Anda.

Kesederhanaan dan keluguan, seolah tergambar dalam setiap jengkal bangunan ini. Anda akan merasa seperti berada dalam dimensi waktu yang berbeda saat memasukinya.

HOTEL TUGU DI BALI

Mesin Waktu yang Eksotis

Kenyamanan sebuah peristirahatan, kenikmatan bersantap. eksklusivitas untuk mencari ketenangan saat berl ibur, ternyata belum cukup untuk menggambarkan apa yang bisa ditawarkan oleh Hotel Tugu. Hotel yang hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dan bandara internasional Ngurah Rai, Bali dan sekitar 15 menit dan daerah pariwisata Seminyak ini, menawarkan sebuah konsep butik hotel yang orisinil dan segi tradisi maupun kemewahan.

Artefak dan berbagai benda bersejarah berumur ratusan tahun peninggalan masyarakat kuno di Jawa dan Bali, tersebar di seluruh penjuru hotel. Mulai dan area lobby, dining room sampai setiap kamar yang didesain berbedab eda dan memiliki arti tersendiri. Bisa dibilang, saat menginjakkan kaki hotel in Anda serasa memasuki sebuah “museum” dengan koleksi indah yang tak ternilai harganya.

Anda pasti tercengang saat memasuki bangunan utama, atau lobby area, atau disebut juga sebagai Bale Agung. Desain bangunan ini terinspirasi dan gaya arsitektur sebuah rumah upacara yang ada di desa Bali kuno. Setiap pilar yang menyangga bangunan ini, terlihat begitu cantik dengan ukiran Boma, gambar binatang sakral yang dipercaya sebagai pelindung seisi desa dan roh jahat.

HOTEL TUGU DI BALI-1Bagian tengah bangunan ini, terdapat sebuah pilar raksasa setinggi 4.5 meter, lengkap dengan patung Garuda yang berasal dan kayu berumur 120 tahun! Sedangkan pada bangunan lain yang Bale Sutra, terdapat patung Dewi Kebijaksanaan yang berasal dan sebuah kuil kuno pada abad ke-18. Wow, unbelievable!

Sebuah Tempat Pelarian

Setiap kamar yang ada di hotel ini pun tak hanya menawarkan sebuah kenyamanan kelas atas, namun nilai historis yang tinggi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika Anda merogoh dompet lebih “dalam” untuk menikmati tempat peristirahatan sekelas Hotel Tugu ini. Puri Le Mayeur, Walter Spies Pavillion, Ndalem, Djojodipoeran, Dedari dan Rejang, adalah beberapa jenis kamar dengan desain dan penataan berbeda, yang bisa Anda nikmati.

Di balik dominasi warna merah dan penataan ruang yang terkesan romantis, ternyata kamar Pun Le Mayeur memang khusus didedikasikan untuk kisah cinta pelukis Belgia, Jean Le Mayeur de Merprés. Ia bukan hanya jatuh cinta pada pulau Bali, tapi juga kepada seorang gadis Bali bernama Ni Polok.

Dilengkapi kamar mandi semi terbuka, balkon panjang dan private pool untuk Anda nikmati berdua dengan pasangan. Selain Pun Le Mayeur, ketenangan dan privasi juga sangat terasa dalam setiap kamar hunian lainnya.

Fasilitas spa yang ditawarkan di hotel ini pun, berbeda dengan hotel lainnya. Misalnya paket KamarDandang Goela: Sumningah Ing Jagat yang menggunakan teknik pemijatan dengan bersumber pada gerakan tali Bali. Bila irama gamelan tan yang diputar semakin cepat, maka pijatan terapis akan semakin keras pula. Atau terapi Kamar The Samedhi, di mana Anda bisa sejenak “melarikan din” dan memasuki suasana yang tenang lewat keharuman aroma bunga mawar, ylang-ylang dan melati. Sebelum sesi terapi dimulai, Anda akan mencicipi nikmatnya jamu yang diracik khusus di Waroeng Jamu. “Pelanian” spiritual Anda pun akan terasa lengkap.

Sederhana Itu Indah

Kalau ekonom EF Schumacher terkenal dengan slogannya, “Small is beautiful”, maka mungkin tepat rasanya bila kita memberi slogan “Sederhana itu indah” untuk menggambarkan sebagian dan Hotel Tugu. Karena kesederhanaan yang ditawarkan oleh hotel ini justru yang menjadi daya tank tersendiri, terutama bagi turis asing.

Makan dengan menggunakan tangan, menenggak air putih langsung dan mulut kendi dan mengandalkan cahaya hIm seadanya sebagai penerangan, adalah sekelumit dan kesederhanaan tata cara makan yang ditawarkan di Hotel Tugu. Mungkin Anda bahkan sudah lupa dengan tata cara makan seperti ini?cobalah untuk mengisi suasana pedesaan dan kesederhanaan ini di Waroeng Tugu. Lengkap dengai kepiawaian Ibu Sulastni, chef “lokal” yang justru bisa membuat parr tamu berdecak kagum saat mencicipi masakan hasil racikannya yan, merupakan warisan turun temurun ini.

HOTEL TUGU DI BALI-2

Selain di Waroeng Tugu, Anda bisa merasakan suasana makan yang berbeda. Misalnya Royal Tugudom, The Grand Ceremonial Dining of Majapahit Kingdom. Dirancang khusus seperti jamuan makan malam agung pada jaman kerajaan Majapahit, lengkap dengan deretan pelayan yang membawa belasan makanan sebagai sajian. Atau Balinese Rajadom, Royal Balinese Dining yang diadakan di ruang Bale Puputan. Lengkap dengan kursi dan meja antik peninggalan abad 19 serta berbagai patung antik yang menggambarkan mitologi Bali kuno. Meskipun suasana dan penataannya sangat mewah, kentalnya tradisi dan kesederhanaan tetap terlihat dan berbagai sajian menu tradisional seperti Lawar Kacang, Jukut Ares, Perkedel, Soto Ayam,dan lain-lain. Sebuah kesederhaan masa lalu yang terlihat indah di jaman modern ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.