Kebudayaan Suku Mentawai – Tato Suku Mentawai

Kebudayaan suku Mentawai – Dunia mengenalseni merajah tubuh atau tato lantaran dipopulerkan dunia barat. Konon kata tato diambil dari bahasa Tahiti, yaitu tatau. Berdasarkan ensikl0dopedia Britan, tato tertua ditemukan pada sebuah mumi di Mesir pada abad ke-20 sebelum masehi (SM). Namun sebutan tato tertua pada mumi tersebut segera terpatahkan ketika sebuah penelitian menunjukkan bahwa tato malah telah ada jauh sebelumnya.

Pria-pria Suku Mentawai yang mendiami Pantai Barat Sumatera malah telah merajah tubuh mereka sejak Zaman Logam. Konon, nenek moyang Suku Mentawai merupakan ras Proto Melayuyang hijrah dari Indocina. Pada 1.500 SM, mereka hidup menetap di Kepulauan Mentawai, Surnatera Barat, dan tersebar di empat pulau besar di Mentawai. Di antaranya Pulau Sibora, Siberut, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Kebudayaan Suku Mentawai – Tato Suku Mentawai

Kebiasaan merajah tubuh orang Mentawai disebut dengan lili. Tato yang menghiasi kulit priapria Mentawai tersebut mencerminkan strata sosial, profesi, dan jati diri mereka dalam masyarakat. Selain itu, tato juga pertanda keseimbangan alam, di mana semua mahluk di sekitar mereka
biasanya diabadikan di atas kulit. Orang-orang Mentawai hidup sederhana dalam sebuah rumah kayr berarsitektur rumah panggung yang disebut dengan uma. Sebagian besar pria Mentawai masih menggunakan pakaian
tradisional dalam kehidupan keseharian mereka.

Pria Mentawai biasanya bertelanjang dada dan dipenuhi tato. Sedangkan tubuh bagian bawah ditutupi kabit dai kulit kayu.

Wanita Mentawai menutup tubuh bagian bawah dengan rok dari sambungan pelepah daun pisang. Sedangkan bagian atas ditutupi dengan rajutan daun rumbia. Pakaian modern hanya digunakan segelintir masyarakat Mentawai.

Masyarakat Mentawai merupakan penganut sistem paffinial dan egalitarian yang kental. Setiap anggota keluarga yang sudah dewasa dalam sebuah rumah memiliki kedudukan yang sama. Kecuali dalam rumah tersebut terdapat seorang sikerai atau dukun yang memiliki kuasa menyembuhkan penyakit dan berperan sebagai pemimpin upacara keagamaan.

Tulisan singkat ini bagian dari 7 tulisan mengenai suku terasing di Indonesia. Silahkan anda kunjungi keseluruhan artikel suku lainnya :

Leave a Reply

Your email address will not be published.